 | Category: | Music | | Genre: | Indie Music | | Artist: | Buckskin Bugle |
One of the greatest Melodic Punk albums in Bandung independent scene! This EP is the second album of Buckskin Bugle, and published by My Own Deck Record Label. I got this album from my friend who went to Bandung in 2004. It’s truly worth because the album only cost Rp12.000.000, and contains four catchy songs that will integrate easily in our head. I could say that Buckskin Bugle is truly inspired by NOFX, Blink 182, and New Found Glory.
"Satu Anthem" as the first song really turns out our spirit and drives us to a happy mood. The lyrics are also very catchy and easy to remind. A great Melodic Punk song! “Sebait Kata”, as the second song, like the other melodic punk songs, tell us the story of a lonely guy who is thinking about his ex-girlfriend. Although, it has a sad lyric, but without forgetting the high content of musicality, Buckskin Bugle apparently did arrange the song to increase our spirit and not stay at the emo mood. Their additional guitarists, Iwan Turbo, are helping both of the songs to be more colorful.
The third song, which is “Everyone Has A Story”, is the shortest song of the album, and the duration, is only almost reach a minute. In this song, we could analyzed that Bandung melodic punk scene are being contaminate with emo, which is proven from the scream of additional backing vocalist Ucok (Restrain vocalist) at the end of the song, whether the lyrics are not at all, express an emo story. “Dengan Kerasnya!” as the last song, and as their album title, expresses us, how fun what melodic punk genre is. “With chord ‘A’ that I play, I scream from my heart, out loud!” looks like the meaning of the song that I could describe.
The creativity of Buckskin Bugle (Tedi Bear as Vox, Nadi Curl as Guitarist & Ami Roe as Drummer) arranging these four songs, which are the lyrics are written by their vocalist Tedi Bear, has brought Bandung “Melodic Pop” independent scene to be more colorful. Looks like My Own Deck Record Label, has recruit a lot of potential melodic punk bands in Bandung, such as Sendal Jepit, Disconnected and other melodic bands to scream out loud!
Although Melodic punk era has being turned to emo (and now metal) looks like, it will always be a masterpiece. Salute for Buckskin Bugle and My Own Deck! Keep up the good work! I’m still waiting for the next masterpiece!   | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Dee (Dewi Lestari) |
Dee, penulis novel ternama Indonesia lewat novel serial best-sellernya Supernova ini berhasil mengompilasikan kumpulan sastra cerita maupun prosa selama satu dekade sejak tahun 1995 sampai 2005 dalam sebuah “Filosofi Kopi” yang namanya diambil dari salah satu karya yang juga disajikan dalam buku ini.
Sebagian besar cerita yang terkandung dalam “Filosofi Kopi” lebih cenderung mengungkapkan tentang ekspresi cinta, serta gejolak individu melalui tokoh-tokoh cerita berkarakter kuat. Kandungan unsur emosi yang cukup dalam, namun dengan penggunaan kata-kata sehari-hari yang tersusun rapih, membuat karya sastra ini cukup mengalir untuk dibaca. Tidak salah bahwa sang penulis sendiri menyarankan “Filosofi Kopi” sebagai karya sastra yang cocok menjadi teman saat bersantai minum kopi.
Di dalamnya, kita dapat mencerna carik-carik tulisan Dee dengan ciri khasnya yang banyak menggunakan metafora, yang dipadu dengan gramatikal yang tersusun rapih, yang tanpa mengurangi unsur sastra yang ada.
Dari karya sastra Dee yang terbagi atas 18 bagian cerita yang ditulis pada periode tahun yang berbeda-beda ini, kita dapat melihat perkembangan tulisan Dee dari waktu ke waktu, serta meneliti pola pikir Dee mencari jati diri terhadap gaya menulisnya. Namun, “Filosofi Kopi” sendiri tidak disusun berdasarkan periode waktu penulisan, melainkan disusun berdasarkan makna dari masing-masing karya penulisan. Mungkin hal ini ditujukan untuk meraih unsur klimaks dalam karya sastra.
Perpaduan unsur intrinsik serta ekstrinsik juga sangat mempengaruhi ilustrasi pada setiap cerita dalam buku ini. Seperti pada istilah yang dapat kita temui pada prosa “Rico de Coro” yang ditulis Dee tahun 1995, yang bercerita tentang kehidupan sebuah kerajaan kecoa di suatu rumah. Karya tersebut bercerita tentang satu anak kecoa bernama Rico yang jatuh cinta dengan salah seorang anak penghuni rumah bernama Sarah. Rico hampir diberi nama “Tak Tik Boom” (nama sebuah kuis populer di televisi era tahun 1995) oleh bapaknya Hunter yang sering menonton televisi karena tinggal di sebuah lubang dekat televisi. Atau pada prosa “Filosofi Kopi” yang ditulis tahun 1996 tentang seorang barista yang sangat terobsesi dan menganggap kopi sebagai belahan jiwanya, yang diperankan oleh Ben sebagai tokoh utama menggunakan kata ganti orang kedua, dan Jody sebagai tokoh pendamping menggunakan kata ganti orang pertama. Prosa diatas menggambarkan kondisi sebelum krisis moneter tertulis bahwa mata uang Rp 50 sampai Rp150 masih berlaku di pedesaan.
Buku ini dapat dibaca untuk segala kalangan pembaca dari mulai pemula maupun cakap. Namun, buku ini sangat cocok bagi pembaca sastra pemula yang ingin mendalami karya-karya sastra ke tingkat selanjutnya. Tata bahasa yang mengalir, cerita-cerita penenang jiwa, serta prosa-prosa mendalam, merupakan keunggulan utama “Filosofi Kopi”. Fisik buku yang tidak terlalu tebal, juga merupakan satu poin keunggulan “Filosofi Kopi” dari buku karya-karya sastra yang lain.
Tidak salah, pakar-pakar penulis ternama tanah air seperti Arswendo Atmowiloto, Manneke Budiman, FX Rudy Gunawan, serta Goenawan Mohammad, memberikan ulasan yang baik terhadap karya sastra ini.
Ada beberapa prosa yang mungkin bagi pembaca pemula mungkin terasa cukup berat, karena menampilkan unsur emosi yang cukup dalam. Namun makna tersirat dalam “Filosofi Kopi” masih cukup jelas untuk dipahami. Gabungan cerita dengan prosa mungkin terasa tidak saling berhubungan satu sama lain dan megedepankan unsur emosi, makna-makna tersirat, serta klimaks dari cerita. Organisasi buku yang tidak disusun berdasarkan waktu penulisan juga sedikit menghambat pembaca yang ingin menganalisa perkembangan pandangan-pandangan tulisan (piont of view) Dee dari waktu ke waktu.
Ada dua hal yang ditekankan pada karya-karya Dee selama satu dekade ini. Keduanya adalah cinta, dan kejujuran. 
| |